Usianya sudah 4o tahun. Kulitnya sawo matang, perawakannya kurus kecil.Satu hal yang bisa langsung diamati dari ibu ini adalah sorot matanya yang layu. Kantung mata yang menghitam, bibir yang pucat. hampir bisa dipastikan sianosis. Tapi ibu ini dapat tegak berdiri,bahkan menggendong bayinya di satu sisi, dan di sisi lain menggandeng anaknya yang juga masih dibawah 2 tahun. Yang lebih mengagetkan lagi, ketika ia masuk ke pintu Puskesmas, seorang anak kecil sekitar 3 tahunan berlari dibelakangnya...Ya Allah, itu anaknya juga.
Seingatku ibu ini datang kira - kira 3 bulan yang lalu, masih dengan perutnya yang membesar,dan kakinya yang bengkak. Saat itu tekanan darahnya 180/110 mmmHg. Hamil 38 minggu dengan kaki bengkak.Bidan yang memeriksa di KIA konsul ke saya. "Bagaimana ini dok? Ibunya enggak mau dirujuk." Apa yang harus saya bilang, pikir saya dalam hati. Melihat penampakannya saja sudah sianosis begini, masak tidak mau ke rumah sakit. Waktu itu akhrinya saya ajak ibu itu dan suaminya berbicara. Nah, ini satu hal lagi. Suaminya ini bukan tipikal orang yang dapat diajak kompromi.Bicara bapak ini seperti orang kampung yang tahu bagaimana bicara penting, tapi tidak mau menundukkan egonya. Bapak ini bilang bahwa dia mengerti konsekuensinya, tapi ia tidak punya pilihan lain, karena anak-anaknya tidak ada yang menjaga. Sedih hati saya mendengarnya. Lelaki ini tega membiarkan istrinya mati hanya karena pilihan sempit itu....Akhirnya setelah diskusi yang cukup alot, kami akhirnya memutuskan bahwa selama belum melahirkan hingga melahirkan diusahakan untuk kontrol rutin. dan bila saatnya persalinan harap menghubungi bidan desa setempat. Tapi kemudian, saya dengar ibu itu akhirnya melahirkan dengan bantuan paraji.
Ketika melihat ibu ini datang lagi,lengkap dengan pasukan kecilnya saya mengucap syukur dalam hati. Terima kasih Ya Allah, Engkau berikan kesempatan ibu ini untuk hidup dan ada untuk anak-anaknya. Singkat kata ibu ini datang untuk memeriksakan diri dan berkonsultasi seputar KB. Ketika saya sedang asyik berbicara dengan sang Ibu, si Bapak datang dan ikut nimbrung. Dan akhirnya si Bapaklah yang mendominasi pembicaraan. Intinya saya bilang, "Pak, ibu ini sudah enggak bisa lagi pakai kb suntik,pil,ataupun susuk. Tekanan darahnya tinggi pak. Ibu ini cuma bisa disteril, dispiral atau bapak yang pakai kondom". Akhirnya kedua suami istri itu memilih pikir - pikir dulu.
Sebenarnya hal seperti ini banyak sekali terjadi di sekitar kita. Ketika sang ibu tak leluasa memberikan keputusan terhadap tubuhnya sendiri. Ketika seorang wanita menggantungkan hidupnya pada seorang lelaki. Dan tidak punya pilihan lain selain bertahan dalam lingkaran hidup yang menyedihkan. Inilah yang muncul dalam benak saya ketika mereka pulang : kalau pilihannya steril resikonya tinggi, biayanya mahal,sudah pasti mereka tidak mau. Kalau pilihannya IUD paling mungkin, tapi mungkin biaya juga masalahnya. Nah, kalau kondom sudah pasti si bapak tidak mau, karena mungkin inilah satu-satunya kenikmatan yang bisa ia rayakan di tengah masalah hidupnya yang pelik.
Ingat ibu ini saya jadi ingin sekali melanjutkan sekolah. Saya ingin bagaimana caranya supaya bisa kasus serupa tidak lagi menjadi momok bagi bangsa ini. Negara ini sudah cukup banyak beban, dan anak-anak yang lahir dari ibu-ibu yang tidak siap baik secara sosial maupun ekonomi akan menjadi beban lagi. Karena anak - anak ini tidak punya masa depan yang jelas. Mudah - mudahan saya bisa berusaha lebih keras lagi....agar tidak ada lagi Bu Sati yang lain....Agar semua ibu bisa mengurus anaknya dengan baik dan dapat melayani suaminya dengan sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar